Author Topic: KRONOLOGI SINGKAT BODDHISATTVA SATYA DHARMA KALAMA  (Read 2420 times)

Nico Mercubuono

  • Murid
  • **
  • Posts: 621
  • Reputasi : 10
KRONOLOGI SINGKAT BODDHISATTVA SATYA DHARMA KALAMA
« on: July 19, 2008, 11:58:11 AM »
KRONOLOGI SINGKAT BODDHISATTVA SATYA DHARMA  KALAMA
Amitoufo...
Temen2 se-Dhamma pada kesempatan kali ini saya akan membahas salah satu Boddhisattva yang terkenal di mata kalangan umat Buddhist , Tridharma , Tao , dan dipuja oleh masyarakat Tionghua karena sifat kejujuran dan kesetiakawanan nya..Sehubungan dekat2 ini sebagian dari kita akan memperingati Hari Kelahiran Kwan Kong yaitu Lak Gwee Ji Sie < 24 Bulan 6 Lunar Kalender > Tanggalan Internasional jatuh pada tanggal 26 July 2008.Selamat menyimak...^^
 
Sebagian besar orang bisa saja tidak mengenal nama Bodhisattva Satyadharma Kalama, tetapi begitu melihat citra rupang seorang jendral gagah perkasa dengan jenggot panjang indah bergemulai dan paras muka merah lebam berkilau, maka mereka pasti akan langsung tahu. Ya, Bodhisattvadharma Satya Kalama  adalah Guan Gong (Kwan Kong).

Berdasarkan yang saya ketahui banyak sekali sebutan/gelar  Kwan Kong ini antara lain  Kwan Seng Tee Kun / Kwan Kung (Guan Gong) / Kwan Shia Te Kun (Guan She Di Jun) / Kwan Tee (Guan Di) / Kwan Ie (Guan Yu) / Kwan In Tiang (Guan Yun Chang) / Kwan Sen Ti Cin / Kuan Seng Ti Cun / San See Hu Cu.

GELAR KEHORMATAN :
Hiap Thian Tai Tee / Hiap Thian Siang Tee / Kai Thian Khouw Hut Ciaw Beng I Han Tai Thian Cun / Hok Mo Tai Tee Kwan Sing Tee Kun Ciaw Beng I Han Thian Cun / Hok Mo Tai Tee Kwan Sing Tee Kun Tai Pi Tai Gwan Tai Sing Tai Cu Cin Gwan Hian Ying Ciaw Beng I han Thian Cun

Siapa tidak kenal Guan Yu? Banyak orang mengetahuinya dari cerita Sam Kok (Kisah Tiga Negara). Namun, tahukah kita bagaimana latar belakang Guan Yu hingga dinobatkan sebagai Dharmapala (Pelindung Dharma) dalam tradisi Mahayana Tiongkok?

Guan Yu (160 - 219 M), alias Yun Chang, lahir pada tanggal 24 bulan 6 Imlek,  adalah penduduk asal Jiezhou, Hedong (sekarang Yuncheng, Propinsi Shanxi). Sejak kecil dididik dalam bidang kesusastraan dan sejarah. Beliau sangat menggemari kitab sejarah Chunqiu (Musim Semi dan Gugur) dan Zuozhuan (kitab sejarah karya Zuo Qiuming). Guan Yu memiliki 3 anak: Guan Ping, Guan Xing dan Guan Suo.

Salah satu watak istimewa yang dimiliki Guan Yu adalah jiwa setia dan ksatria, beliau berani membela yang lemah dan tertindas. Tahun 184, Guan Yu melarikan diri dari kampung halamannya setelah membunuh orang demi membela kaum lemah. Beliau menuju wilayah Zuo, kemudian berkenalan dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Liu Bei adalah anggota keluarga Kaisar Kerajaan Han yang sedang merekrut prajurit untuk membasmi pemberontakan Serban Kuning. Karena memiliki cita-cita yang sama, maka mereka bertiga menjalin tali persaudaraan yang dikenal dengan sebutan Tiga Pertalian Setia di Taman Bunga Persik. Semenjak itu, mereka bertiga berkomitmen sehidup semati memperjuangkan cita-cita penegakan hukum demi membersihkan Kerajaan Han dari gerogotan korupsi dan pengkhianatan.

Namun Kerajaan Han yang telah berdiri kokoh selama 400 tahun itu akhirnya terpecah menjadi 3 kerajaan, yang mana Liu Bei sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan menyatakan diri sebagai penerus Dinasti Han. Era inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan San Guo (Sam Kok - Tiga Negara). Perjuangan keras tiga bersaudara Taman Bunga Persik untuk mempersatukan Tiongkok tidak berhasil. Begitulah hingga usia 60 tahun, Guan Yu bersama putranya, Guan Ping, akhirnya gugur dalam pertempuran.

Meskipun demikian, rasa hormat terhadap Guan Yu tidak serta merta lenyap seiring dengan gugurnya pahlawan berparas merah lebam ini. Keberanian, kesetiaan dan jiwa ksatria beliau menjadi kisah harum dalam masyarakat Tionghoa selama turun temurun. Selain itu, dalam kalangan spiritual, dikenal pula kisah perjodohan Guan Yu dengan ajaran Buddha, sebuah ajaran kebenaran sejati yang menembus kepekatan misteri dimensi ruang dan waktu. Ya, Guan Yu menjadi siswa Buddha setelah beliau gugur


Boddhisattva Satyadharma Kalama ( Sangharama ) / Kwan Kong Sebagai Pelindung Dharma

Kisah berikut ini terjadi beberapa ratus tahun setelah gugurnya Guan Yu. Berdasarkan catatan sejarah Buddhist - Fozhu Tongji, pada tahun 592 M, (Dinasti Sui, era Kai Huang ke-12), disebutkan bahwa pada suatu malam, langit tiba-tiba menjadi cerah, bulan terlihat jelas sekali, Guan Yu bersama Guan Ping dan sekelompok makhluk gaib muncul di hadapan Master Tripitaka Zhiyi (pendiri aliran Tiantai Tiongkok) yang sedang bermeditasi di Bukit Yuquan. Guan Yu berkata, “Saya Guan Yu dari era akhir Dinasti Han. Ini adalah putra saya, Guan Ping. Kami terus berkelana setelah meninggal. Yang Arya, dengan tujuan apakah anda datang ke sini? Master Zhiyi menjawab, “Aku datang ke sini untuk mendirikan vihara.”

Guan Yu menjawab, “Yang Arya, izinkanlah kami untuk membantumu. Tidak jauh dari sini, terdapat lahan yang kokoh tanahnya. Saya dan putra saya dengan senang hati akan membangun vihara di sana untuk anda. Mohon lanjutkan meditasinya, vihara akan selesai dalam waktu 7 hari saja.” Setelah Master Zhiyi selesai bermeditasi, terlihat sebuah vihara yang sangat indah muncul persis di tempat yang ditunjukkan oleh Guan Yu. Vihara itu kemudian diberi nama Vihara Yuquan.

Suatu hari Guan Yu datang ke Vihara Yuquan untuk mendengarkan Master Zhiyi membabarkan Dharma, setelah itu beliau memohon untuk dapat menjadi siswa Buddha dengan menerima Trisarana dan Panca Sila Buddhis. “Aku sangat beruntung mendapat kesempatan mendengarkan Dharma dan beraspirasi mempraktikkan Jalan Bodhi (pencerahan) mulai dari sekarang. Mohon izinkanlah saya untuk menerima Sila dari Anda,” demikian ucap Guan Yu kepada Master Zhiyi. Master Zhiyi kemudian membangun sebuah kuil untuk Guan Yu di sebelah barat daya vihara. Sebuah batu ukiran yang bertajuk tahun 820 M di Vihara Yuquan mengisahkan tentang pertemuan antara Guan Yu dan Zhiyi tersebut.

Selain kisah di atas, ada satu versi lain tentang kisah bagaimana Guan Yu menjadi seorang pemeluk agama Buddha. Dikatakan bahwa pada suatu malam Guan Yu menemui Bhiksu Zhikai, murid dari Tiantai Master Zhiyi, dan menerima Trisarana dari Bhiksu Zhikai. Kemudian Bhiksu Zhi Kai melaporkan perjumpaan dengan Guan Yu tersebut kepada Yang Guang, Pangeran Jin (yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Sui – Yang Di). Pangeran Yang Guang memberikan Guan Yu gelar “Sangharama Bodhisattva”. Itulah asal muasal dari mana gelar Sangharama diberikan kepada Guan Yu.

Pada kisah lainnya, seperti dalam Catatan Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi), Guan Yu muncul di hadapan Bhikshu Pujing di malam saat gugur karena dipenggal oleh pihak Sun Quan, Raja Wu. Tubuhnya dikubur di dekat Bukit Yuquan yaitu di Jingzhou. Di sela-sela kegalauan atas kehilangan kepala, raga halus Guan Yu bergentayangan mencari kembali kepalanya. Bhiksu Pu Jing dengan kekuatan batinnya melihat Guan Yu turun dari angkasa menunggang kuda sambil menggenggam golok besar Naga Hijau, bersama dengan 2 pria, Guan Ping dan Zhou Cang. Semasa hidupnya saat dalam pelarian dari kubu Cao Cao, Guan Yu pernah ditolong oleh Pujing di Vihara Zhen-guo. Lalu Bhiksu Pujing memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya seraya berkata, “Di mana Yun Chang?” Seketika itu juga Guan Yu tersadarkan.

Guan Yu kemudian memohon petunjuk untuk dapat terbebas dari kegelapan pengembaraan batin. Pujing memberi nasehat, “Dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu.” Pujing lalu melanjutkan, “Sekarang engkau meminta kepalamu, menuntut atas kematianmu di tangan Lu Meng, namun kepada siapa Yan Liang, Wen Chou dan penjaga lima perbatasan serta banyak lagi lainnya yang telah kau bunuh, meminta kembali kepala mereka?” Kata-kata Pujing itu sangat menyentak.

Setelah tersadarkan dari kegalauannya, Guan Yu lalu menjadi pengikut Buddhis. Sejak itu Guan Yu sering muncul melindungi masyarakat di sekitar Bukit Yuquan. Sebagai rasa terima kasih kepada Guan Yu, para penduduk membangun vihara di puncak Bukit Yuquan.

Gubuk rumput tempat tinggal Pujing kemudian dibangun menjadi Vihara Yuquan. Vihara Yuquan ini didirikan pada abad ke-6 M dan di dalamnya ada aula Sangharama. Ini adalah salah satu tempat pemujaan Guan Yu yang tertua, juga merupakan vihara tertua di Dangyang. Tempat penampakan raga halus Guan Yu ditandai dengan sebatang pilar batu yang bertuliskan: “Di sini tempat Guan Yun Chang dari Dinasti Han menampakkan diri.” Pilar batu itu adalah hadiah dari kaisar Wan Li masa Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.

Dalam Sutra Saptabuddha Ashtabodhisattva Maha Dharani Sutra (Sutra tentang Mantra Sakti Mahadharani yang dibabarkan 7 Buddha dan 8 Bodhisattva) tercatat bahwa ada 18 Sangharama (Qielan Shen) sebagai pelindung lingkungan vihara, yaitu: Meiyin, Fanyin, Tian’gu, Tanmiao,  Tanmei, Momiao, Leiyin, Shizi, Miaotan, Fanxiang, Renyin, Fonu, Songde, Guangmu, Miaoyan, Cheting, Cheshi, dan Bianshi.

Guan Yu sendiri bukanlah sosok yang tercatat dalam Sutra Mahayana sebagai Sangharama. Term Sangharama sendiri mengandung pengertian sebagai tempat tinggal anggota Sangha, atau lebih umum dikenal sebagai vihara. Secara etimologi, istilah Sangharama telah dikenal sejak masa kehidupan Buddha. Selain 18 dewa Sangharama yang telah disebutkan di atas, dua tokoh yang dianggap sebagai pelindung utama Sangharama adalah Anathapindika dan Pangeran Jeta, penyokong Vihara Jetavanarama pada masa kehidupan Buddha.

Secara kualitatif, Guan Yu memiliki pengabdian yang setara dengan para Pelindung Sangharama, pun karena memiliki komitmen yang besar untuk melindungi lingkungan vihara, maka tidaklah mengherankan bila kemudian diapresiasi secara khusus oleh Mahayana Tiongkok sebagai Bodhisattva Sangharama. Ada juga yang menyebut sebagai Bodhisattva Satyadharma Kalama.

Pemujaan Kwan Kong

Selain dalam Agama Buddha,Pemujaan Kwan Kong juga di kalangan umat Tao dan Konghucu sebagai Guansheng Dijun, Guan Gong, dan Guan Di. Penghormatan ini tampak nyata sekali di banyak kelenteng. Sejak Dinasti Song para Taois memuja Guan Yu sebagai Dewata Pelindung Malapetaka Peperangan, sedang umat Konghucu menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan - Wenheng Dadi.

Pemujaan Guan Gong mulai meluas di kalangan Taois pada abad ke 12 M. Menurut sejarawan Boris Riftin dan Barend J. Ter Haar, pemujaan Guan Yu di kalangan Buddhis lebih awal daripada di kalangan Taois.

Pemujaan ini mulai popular pada masa Dinasti Ming. Guan Di dipuja karena kejujuran dan kesetiaannya, pun dipandang sebagai dewa pelindung perdagangan, dewa pelindung kesusasteraan dan dewa pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan dewa perang yang umumnya dialamatkan kepada Guan Di, harus diartikan sebagai dewa yang mencegah terjadinya peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Guan Yu yang budiman. Di kalangan rakyat, Guan Yu juga dianggap sebagai Dewa Rezeki - Wuchai Shen.


Pemujaan Kwan Kong di Indonesia

Begitupula di Indonesia , banyak kelenteng yang menggunakan ikon Kwan Kong ini sebagai tuan rumah antara lain Klenteng Kwan Sing Bio di Tuban Jatim sebagai salah satu Kelenteng tertua di Indonesia .Kelenteng lainnya di Klenteng Tong Gie Tong ( Cetya Setia Budi ) Jagalan,Semarang,Vihara Dharma Persada/ Kwan Tek Koen Bio di Karawang dan beberapa kelenteng tua di Jakarta antara lain Vihara Arya Marga di Gang Lamceng , Perniagaan dan Kwan Te Koen Bio di Jelambar. Namun Rupang Kwan Kong dapat ditemui di semua vihara karena dalam Buddhist Kwan Kong sebagai Pelindung Dharma.Biasanya Rupang Kwan Kong sering ditampilkan berdiri berpasangan dengan Dharmapala Veda (Weituo Pusa) yang juga merupakan Pelindung Dharma. Keduanya mendampingi rupang Sakyamuni Buddha atau Avalokitesvara Boddhisattva / Kwan Im Pho Sat.


Banyak sekali sikap yang kita bisa petik dari Kwan Kong ini yakni antara lain :
1.Berjiwa patriotis yang sangat tinggi
2.Sikap Kesetiakawanan persaudaraan dan teman yang tinggi
3.Kejujuran dalam segala hal
4.Tidak tergiur oleh kesenangan / kenikmatan , nama baik dan harta
5.Menjunjung tinggi norma susila
6.Mementingkan kepentingan orang lain

Hari Kebesaran Kwan Sing Tee Kun ( Kwan Kong )
Kwan Kong Naik Ke Langit Imlek 1 Gwee 14 ( 19 Feb 2008 )
Ulang Tahun Kwan Kong Imlek 6 Gwee 24< Lak Gwee Jie Shi > ( 26 July 2008 )

Mari kita teladani dan contoh sikap2 Kwan Kong dalam hidup kita. Kita praktekkan sikap2 Kwan Kong kepada semua makhluk.Jelas itu akan lebih berguna dibandingkan kita hanya mengetahui kronologis dan sejarah nya saja..Semoga Artikel ini bermanfaat bagi kita semua..
Sadhu..sadhu..sadhu.. OM MANI PADME HUM !!

“ The SECRET of Health for both body and mind is not mourn for the past , worry about the future , or anticipate troubles. But to live in the present moment wisely and earnestly”
[ Sakyamuni Buddha ]

N1mD4

  • Who am I?
  • Murid Senior
  • *****
  • Posts: 1108
  • Reputasi : 10001
  • Welcome to ST :)
    • Secangkir Teh - Forum Buddhist
Re: KRONOLOGI SINGKAT BODDHISATTVA SATYA DHARMA KALAMA
« Reply #1 on: July 21, 2008, 03:24:51 AM »
Nice Post.

+1 kelakuan baik ya
Terima Kasih telah mengunjungi Secangkir Teh / ST.....

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Namo Ami Tuo Fo
Om Mani Padme Hum

Nico Mercubuono

  • Murid
  • **
  • Posts: 621
  • Reputasi : 10
Re: KRONOLOGI SINGKAT BODDHISATTVA SATYA DHARMA KALAMA
« Reply #2 on: July 24, 2008, 03:59:15 PM »
oke N1mD4 thanks ya..
semoga artikel ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua..
semoga kita semakin tau lebih dalam tentang buddhist..^^
“ The SECRET of Health for both body and mind is not mourn for the past , worry about the future , or anticipate troubles. But to live in the present moment wisely and earnestly”
[ Sakyamuni Buddha ]