Ide dalam refleksi kali ini muncul setelah saya menonton film "Karate Kid" yang sedang main di bioskop

buat teman2 yang belum nonton, film ini cukup recommended karena isinya cukup ringan, menghibur, tetapi memiliki nilai2 filosofis hidup yang menarik dan cukup dalam. Saya gak akan bahas isi film ini, karena saya gak mau refleksi ini jadi spoiler hehe, tapi ada saya akan singgung satu aspek penting dalam film ini, yaitu tentang Kungfu.
Dalam cerita ini, dikisahkan seorang guru memiliki cara yang unik dalam mengajarkan kungfu kepada seorang anak. Daripada mengikuti kurikulum tradisional maupun yang umum, biasanya dari kuda2, gerakan2 dan jurus, dll, sang guru menyuruh anak tersebut untuk melakukan kegiatan sederhana seperti menggantungkan jaket ke tiang gantungan, menariknya dan memakaikan ke badan, atau menjatuhkan dan memungutnya. Sang guru juga menyuruh anak tersebut sikap mental yang "hepi" dalam melakukan kegiatan2 yang sepertinya membosankan ini. Awalnya walaupun sang anak tidak suka dengan metode ini, bahkan sampai meragukan kemampuan sang guru, tetapi dia terpaksa melakukannya. Sampai suatu saat sang anak tidak tahan dan "meledak", kemudian memutuskan untuk berhenti. Tetapi pada saat itu, sang guru menyerang anak itu dengan beberapa jurus, dan ternyata sang anak telah tumbuh intuisi dan sistem refleks, serta kekuatan dan keluwesan otot, untuk menanggapi jurus2 tersebut. Dari sana, sang anak sangat terkejut dan menyadari, bahwa apa yang telah dipelajarinya tidak sia2, malah sangat bermanfaat.
Dari situ, sang guru menjelaskan kepada anak tersebut kalau kungfu yang sebenarnya, bukan terletak pada hal-hal di "luar sana", tetapi ada dalam kehidupan sehari2. Dalam setiap perbuatan yang kita perbuat, dan dalam sikap kita terhadap orang lain dan terhadap apa yang kita kerjakan. Pada intinya, kungfu terletak pada "way of life", bukan sistem ilmu yang terpisah dari keseharian, hanya saja kita tidak menyadarinya.
Menonton adegan ini, membuat saya seketika teringat dengan Dharma. Banyak orang berpikir, kalau Buddhism itu suatu sistem ilmu tersendiri (entah itu dalam teori2 psikologis Dharma ataupun dalam sutta2), dan bukan merupakan bagian yang terintegrasi dalam kegiatan kita sehari2. Misalnya, banyak orang berpikir kalau waktu makan McDonald bersama teman2 itu mereka sedang tidak berpraktik Dharma. Atau waktu kita berpesta dengan teman2 kita, kita tidak sedang melakukan praktik Dharma. Dalam cara pandang ini, praktik Dharma hanya kita lakukan apabila kita sedang kebaktian di vihara, mendiskusikan Dharma, bermeditasi, ataupun melakukan kegiatan2 sosial Buddhis. Tapi pernahkan kita sadari, kalau Dharma pun merupakan bagian dari kehidupan sehari2 kita?
Ajahn Brahm sering memberi nasehat, bahwa nilai dari Dharma bukan terletak pada "the what" (kebaktian, diskusi, meditasi, makan, main, dsb), tetapi terletak pada "the how" (bagaimana kita melakukan kegiatan2 itu). Saat kita makan McDonald dengan sikap mental yang memfokuskan segalanya pada present moment, pada setiap suapan makanan yang masuk ke mulut kita, memiliki nilai Dharma yang lebih tinggi daripada waktu ikut kebaktian tetapi pikirannya ngelantur, atau waktu diskusi Dharma tetapi melamun atau memikirkan hal2 yang tidak menyenangkan tentang seseorang. Nilai Dharma ada pada bagaimana kita melakukan kegiatan kita sehari2.
Saya akan mengilustrasikan aspek ini dalam satu tindakan konkrit dalam praktik Buddhism, yaitu meditasi. Seperti saya sebutkan di awal, banyak orang berpikir bahwa bermeditasi adalah praktik Dharma yang
tidak ada hubungannya dengan kegiatan sehari2 kita. Dengan kata lain, meditasi dan kegiatan seperti makan dan main adalah 2 hal yang terpisah, gak berhubungan. Saat meditasi, itulah praktik Dharma. Tetapi saat makan dan main, itu bukan saatnya praktik Dharma. Padahal keduanya sebenarnya sangat berhubungan.
Kebanyakan orang, termasuk saya sendiri, merasa tidak mudah belajar meditasi. Dan hal ini sangat dimaklumi, karena batin kita sudah terbiasa terkondisi untuk merespons apa yang datang ke batin kita dengan cepat, dan sangat alami bagi pikiran kita untuk lari2 dengan cepat ke sana sini. Salah satu dari 5 hambatan dalam meditasi (panca nivarana) adalah "kegelisahan dan kekhawatiran" (restlessness and worry) seperti yang saya tulis dalam judul refleksi ini. Kegelisahan dan kekhawatiran ini menjadi kondisi alami batin kita yang membuat kita sulit untuk "keep still" dan "be peaceful" seperti permukaan air danau yang tenang tanpa riak. Permukaan danau kita telah terbiasa untuk selalu beriak2, bergelombang ke sana ke mari, mungkin tenang untuk beberapa saat, tetapi setelah itu beriak kembali.
Restlessness atau kegelisahan, umumnya muncul karena batin kita "dihantui" oleh perbuatan2 masa lalu kita yang kurang menyenangkan. Saya masih ingat waktu saya SD, pertama kalinya saya beli makanan di kantin sekolah yang harganya Rp 300 (murah banget ya hehehe), dan saya memberi uang Rp 500, tetapi kemudian dikembalikan oleh penjualnya Rp 700. Dengan kata lain, si penjual mengira saya memberi uang Rp 1000, makanya kembaliannya Rp 700. Waktu awal2 saya menyadarinya, saya sangat gembira. Saya sering mendengar ada teman2 yang mengalami kejadian serupa dan mereka sangat bahagia karena dapet rejeki mujur. Saya pun seketika berpikir "wah saya hoki banget". Respons saya terkondisi oleh cara teman2 saya merespons

Tetapi setelah saya sampai di rumah, mulai muncul rasa bersalah. Saya seketika tahu, hal ini salah karena saya mengambil uang yang sebenarnya bukan hak saya. Tapi di sisi lain, kondisi sosial seolah2 meng-ok-kan untuk menerimanya. Akhirnya, selama seharian, saya dihantui oleh rasa bersalah dan tidak enak itu, sehingga saya sangat gelisah bahkan malamnya saya sampai tidak enak tidur. Saya benar2 kehilangan peaceful life yang biasanya saya rasakan. Akhirnya saya putuskan, besok akan saya kembalikan uang itu ke pemilik kantin. Maka keesokan harinya saya kembalikan, mereka sangat gembira dan menghargai kejujuran saya. Selepas itu, saya merasa sangat lega dan terbebas dari rasa bersalah dan kegelisahan ini, dan saya jadi bisa menghargai rasa aman yang diperoleh dari perbuatan jujur ini.
Sama halnya dengan kondisi saya yang dihantui kegelisahan akibat perbuatan kurang baik di masa lalu, saya menjadi susah untuk berada dalam kedamaian, dalam meditasi pun kegelisahan bekerja dengan cara yang sama. Kegelisahan menghambat batin kita untuk bisa masuk dalam kondisi meditatif yang damai, tentram, lega, dan bebas. Dengan cara yang sama juga, kejujuran (memegang sila keempat) membawa saya pada rasa aman dan damai, terbebas dari kegelisahan. Secara lebih luas, apabila kita memegang sila dengan benar, kita terbebas dari segala bentuk kegelisahan dan memudahkan kita untuk bermeditasi, memasuki kondisi kedamaian batin. Di sinilah hubungan dari perilaku sehari2 dengan praktik meditasi kita. Inilah integrasi praktik meditasi dan bagaimana kita menjalani kehidupan keseharian kita. Dan sebenarnya, kunci untuk mengatasi hambatan meditasi "restlessness" ini adalah dengan memegang sila dengan benar.
Kedua, apabila kegelisahan muncul akibat perbuatan2 lalu kita, kekhawatiran (worry) biasanya muncul akibat fokus kita kepada ketidakpastian akan masa depan. Misalnya, waktu kita gak punya kerjaan dan uang sudah menipis, muncul kekhawatiran saat kita berpikir "duh minggu depan saya mau makan apa? Uang udah ga ada". Contoh ini contoh yang ekstrim, dan mungkin sebagian dari kita tidak pernah mengalami ini. Tetapi kalau kita renungkan, setiap kekhawatiran yang muncul, disebabkan oleh fokus kita terhadap ketidakpastian akan masa depan. Hal ini jugalah yang menyebabkan kita menjadi tidak bisa tenang, damai, dan lega dalam saat ini. Demikianlah kekhawatiran bekerja dalam menghambat meditasi kita.
Untuk mengatasi hambatan ini, sekali lagi diperlukan keseimbangan antara faith dan wisdom. Apabila kita mengerti hukum karma dengan benar, kita tahu bahwa masa depan merupakan perpaduan dari 1) apa yang telah kita lakukan di masa lalu, 2) apa yang kita kerjakan sekarang, dan 3) kondisi2 yang mematangkan karma kita. Untuk faktor pertama, mirip dengan pembahasan mengenai kegelisahan, apabila kita senantiasa melakukan perbuatan2 baik dalam arti menjaga sila dengan benar, kita bisa lega dengan 1 modal bahwa perbuatan2 baik yang kita lakukan tidaklah akan mencelakakan kita di masa depan, malah sebaliknya ... bisa memberikan kebahagiaan saat berbuah di masa mendatang. Kondisi ketiga, yaitu kondisi2 yang mematangkan karma kita, ada di luar kendali kita. Sama halnya dengan cuaca yang mematangkan panen, itu ada di luar kendali kita dan kita hanya bisa memprediksikan dengan bijak.
Sedangkan yang paling penting adalah point ke 2, yaitu apa yang kita kerjakan sekarang. Baru-baru ini, Ajahn Brahm menjelaskan bahwa worry (kekhawatiran) merupakan thief of our time, karena masa depan kita dibuat di "saat ini" alias sekarang. Daripada membuang waktu untuk memikirkan masa depan, lebih baik memfokuskan pada sebab2nya di masa sekarang, dengan berbuat yang terbaik di masa sekarang. Membuang waktu "di masa sekarang" untuk mengkhawatirkan masa depan, sama saja dengan "membuang" masa depan kita.
Apabila kita telah terbiasa berpola kelakukan baik dalam keseharian kita, dan memiliki pengertian yang benar di atas akan hukum karma, kita pun bisa merasa tenang dan menghilangkan kekhawatiran2 yang biasa muncul. Andaikan muncul, pengertian benar di atas dapat membuat kita mengatasinya dengan lebih cepat dan lebih baik. Akibatnya, kita lebih biasa untuk memiliki ketenangan batin dan dapat memasuki meditasi dengan lebih baik dan mulus.
Seperti kita lihat, perbuatan2 keseharian kita erat kaitannya dengan praktik meditasi kita. Apabila perbuatan2 kita berpola kurang baik, kegelisahan dan kekhawatiran dapat menghambat kita dalam melakukan praktik meditasi. Tetapi apabila perbuatan2 kita berpola baik, ditambah kebijaksanaan dan pengertian benar akan hukum karma, kita dapat dengan lebih mudah bermeditasi.
Dan akibat dari praktik meditasi yang baik, akan mengimbas bagaimana kita melakukan kegiatan2 keseharian kita. Apabila kita pernah memasuki kondisi meditasi yang baik, kewaspadaan dan konsentrasi kita akan menjadi lebih tajam, sehingga kita pun dapat lebih efektif dalam melakukan kegiatan keseharian kita, dapat lebih enjoy dalam menikmati setiap makanan kita dan momen2 dalam hidup kita, dapat lebih baik dalam berelasi dengan orang lain, dan memiliki batin yang lebih jernih untuk membaca situasi dan memilih tindakan2 yang tepat untuk merespon situasi2 tersebut.
Kalau diringkas, proses nya benar2 menjadi: perbuatan keseharian --> praktik meditasi yang baik --> perbuatan keseharian yan lebih baik lagi. Dan proses ini akan berlanjut terus ke praktik meditasi yang lebih baik lagi, dan seterusnya. Dengan begitu, sangat jelas kalau dualisme antara "praktik Dharma" dan "praktik keseharian" kita sebenarnya cuma "delusi" atau konsep yang salah dalam pemahaman kita. Mereka hanya "terlihat berbeda" karena ketidaktahuan kita (avijja). Praktik yang sebenarnya hanya satu, yaitu Dharma adalah bagian dari praktik keseharian kita.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Mettacittena,
Luis