Author Topic: mantra Om Mani Padme Hum ~ Riwayat & makna  (Read 5725 times)

4kupak

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 898
  • Reputasi : 21
mantra Om Mani Padme Hum ~ Riwayat & makna
« on: October 27, 2009, 03:29:24 PM »
Arya Avalokiteshvara dan Mantra Enam Suku Kata

 
Oleh: Shangpa Rinpoche

1st Published 1999

by Karma Kagyud Buddhist Center

No. 38 Lorong 22 Geylang

Singapore 398695

Terjemahan oleh: AB Setiadji, April 2005


Terpujilah Arya Avalokiteshvara, dengan mendengar namaNya dan melihat perwujudanNya, semua makhluk dibebaskan dari sengsara.

Pengantar

Sebagai hasil dari keterikatan kita dengan “ego diri”, muncullah kemunduran batin  seperti kebanggaan, iri hati, nafsu, ketidakpedulian, kesedihan dan kebencian. Karena pandangan dan emosi yang keliru, para makhluk melakukan tindakan negatif yang mengikat dirinya ke dalam penderitaan di samsara, yaitu putaran kelahiran, menua, sakit dan mati.

Semua Buddha termasuk Buddha Shakyamuni muncul di dunia ini untuk menunjukkan kepada kita jalan untuk melepaskan diri dari penderitaan. Untuk mencapai tujuan Penerangan, seorang praktisi perlu mengembangkan kebijaksanaan dan kualitas Buddha. Pada tahap pengembangan, kita bergantung pada ajaran, berkah, dukungan dan penguatan dari Buddha dan Boddhisattva. Melalui pelaksanaan enam kebijaksanaan (sad paramita), para Makhluk Suci atau Boddhisattva mengumpulkan jasa, kesabaran, kebijaksanaan dan kualitas, yang memungkinkan mereka menolong semua makhluk.

Salah satu dari Boddhisattva yang paling dikenal di Tibet, China, Jepang, Korea dan Asia Tenggara (khususnya Indonesia) adalah Arya Avalokiteshvara. Ia dikenal sebagai Chenrezig bagi orang Tibet atau Kuan Yin Pu Sa bagi orang China.


Kelahiran Ajaib Avalokiteshvara di Tanah Suci Padmavati

Menurut naskah Mani Kabum, di tanah suci Padmawati, ada penguasa dunia bernama Zangpochong. Raja ini menginginkan seorang anak laki-laki. Ia telah membuat banyak persembahan kepada Tri Ratna agar berkenan mengabulkan permohonannya, dan pada setiap persembahan ia mengirim pelayan-pelayan untuk mengumpulkan bunga teratai.

Pada suatu ketika, seorang pelayan menemukan teratai raksasa di danau. Ukuran kelopaknya sebesar sayap burung heriang (semacam elang) dan hampir mekar. Ia segera kembali memberitahu sang Raja. Raja merasa bahwa ini adalah tanda doanya meminta seorang putera akan dikabulkan. Ia kemudian pergi bersama rombongan menteri ke danau tersebut dengan membawa berbagai persembahan. Di sana mereka menemukan sebuah teratai raksasa sedang mekar. Di dalam kelopaknya, ada seorang anak laki-laki berumur sekitar 16 tahun. Tubuhnya putih dan ia memancarkan tanda-tanda fisik kesempurnaan seorang Buddha. Sinar memancar dari tubuhnya. Anak itu berkata “Aku sangat kasihan terhadap semua makhluk yang begitu menderita”.

Raja dan rombongan memberikan banyak persembahan dan penghormatan ke anak itu, dan mengajaknya ke istana. Raja memberinya nama “Yang Lahir dari Teratai” atau “Inti Teratai” karena kelahirannya yang ajaib. Ia juga menanyakan hal ini kepada Buddha Amitabha. Buddha Amitabha memberitahu Raja bahwa anak itu adalah perwujudan dari semua aktivitas para Buddha. Ia juga perwujudan dari hati semua Buddha. Namanya Avalokiteshvara dan ia akan memenuhi tujuan semua makhluk di seluruh penjuru alam.


Misi Avalokiteshvara dan Perwujudan dari Enam Buddha dalam Enam Bentuk makhluk

Pada suatu purnama, Raja membuat persembahan istimewa kepada Tri Ratna dan Avalokiteshvara. Pada saat itu, Avalokiteshvara mengumpulkan kembali misinya. Ia harus membebaskan semua makhluk dari penderitaan. Dengan welas asih, ia memperhatikan para makhluk dalam tiga kekuasaan nafsu keinginan, yang berbentuk dan tidak berbentuk. Ia melihat kemunduran dan penderitaan. Ia melihat bahwa “nafsu mereka seperti air terjun; kebencian mereka seperti api yang berkobar; ketidakpedulian melingkupi mereka seperti awan kegelapan; kebanggan mereka sekokoh gunung; dan keirihatian mereka secepat angin. Rantai dari ego diri mengikat tiap makhluk ke dalam putaran kelahiran dan kematian. Penderitaan yang mereka alami serasa seperti mereka jatuh ke dalam nyala api.”

Sifat welas asih muncul dan air mata menitik dari mata Avalokiteshvara. Ia membuat persembahan dan penghormatan kepada Buddha dari sepuluh penjuru dan berdoa memohon bimbingan bagaimana Ia dapat menolong semua makhluk yang menderita. Para Buddha menjawab serempak, “Jika engkau ingin menolong semua makhluk, engkau harus dimotivasi oleh kebajikan dan welas asih. Jangan bosan dengan tugas ini. Jangan menyerah.” Ia bertanya lagi, “ Bagaimana aku mengembangkan sifat kebajikan dan welas asih?” Buddha Amitabha muncul untuk mengarahkan Avalokiteshvara pada praktek, dan memberinya kekuatan untuk memenuhi misinya. Dengan berkah ini Avalokiteshvara berjanji selanjutnya “dari tiap pori-pori di tubuhku, semoga aku mewujud menjadi Buddha dan Boddhisatva sesuai kebutuhan semua makhluk. Dengan perwujudan tersebut, semoga aku dapat membebaskan semua makhluk hidup tanpa tersisa satupun. Jika aku memiliki kemelekatan, biarlah kepalaku hancur berkeping”. Buddha Amitabha memujinya, “Bagus. Buddha dari sepuluh penjuru dan tiga masa dan Aku telah mengembangkan sikap tercerahkan sama sepertimu. Kami telah membuat janji ini dan memperoleh penerangan. Aku akan menolongmu.” Buddha Amitabha memberkahi aspirasinya dan memberinya kekuatan.
 

Perwujudan Enam Buddha dalam Enam Bentuk

Avalokitashvara kemudian memancarkan enam cahaya dari tubuhnya menjadi enam bentuk makhluk. Tiap cahaya mewujud menjadi satu Buddha. Enam Buddha adalah:

1.     Buddha Gyajin di alam Dewa untuk menaklukkan kesombongan dari semua dewa dan membebaskan penderitaan mereka;

2.     Buddha Thagzangri di alam setengah dewa untuk menaklukkan iri hati dan membebaskan mereka dari pertikaian dan pertempuran terus menerus;

3.     Buddha Sakyamuni di alam manusia untuk menaklukkan keinginan dan membebaskan dari kelahiran, usia tua, sakit dan kematian;

4.     Buddha Sangye Rabten di alam binatang untuk menaklukkan noda kebodohan, dan membebaskan mereka dari penderitaan diburu, dimangsa dan dianiaya;

5.     Buddha Namkhazod di alam setan kelaparan untuk menaklukkan noda kesengsaraan, dan membebaskan mereka dari penderitaan kelaparan dan kehausan;

6.     Buddha Chokyi Gyalpo di alam neraka untuk menaklukkan noda kebencian, dan membebaskan dari penderitaan panas dan dingin yang luar biasa dan penderitaan lain.

Tak terhitung makhluk yang kemudian terbebaskan.


Manifestasi Avalokiteshvara Bertangan-Seribu dan Bermata-Seribu, dan mantra enam sukukata

Sesudah beberapa waktu, Avalokiteshvara berpikir bahwa ia telah berhasil mengurangi banyak sekali jumlah makhluk yang menderita. Saat ia memperhatikan dengan mata kebijakannya dari Gunung Meru, ia merasa kecewa mendapati bahwa jumlahnya tidak banyak berkurang. Ia memancarkan cahayanya ke enam alam sebanyak tiga kali lagi untuk membebaskan semua makhluk. Ketika ia memeriksa kembali, ia kecewa. Dengan putus asa, ia berpikir, “Sungguh sebagaimana Tathagata telah katakan, alam semesta tak terbatas; begitu juga makhluk hidup pun tak terbatas. Aku telah membebaskan begitu banyak makhluk namun jumlah mereka tidak banyak berkurang. Samsara tiada akhir. Aku harus membebaskan diriku sendiri.”

Dengan pemikiran yang menurun ini, ia melanggar sumpah bodhisattva. Kepalanya pecah menjadi seratus bagian. Dengan penuh penyesalan, ia berseru kepada Buddha Amitabha dan semua Buddha mohon pertolongan, “Hamba telah gagal memenuhi tujuanku dan tujuan makhluk, tolonglah hamba.” Buddha Amitabha muncul, mengumpulkan seratus bagian dari kepala yang pecah, dan merubahnya menjadi sebelas kepala. Beliau memberkati sepuluh kepala dengan perwujudan damai dan satu dengan perwujudan murka dengan tujuan untuk menaklukkan mereka yang tak dapat ditaklukkan dengan cara-cara damai.

Buddha Amitabha lalu memerintahkan, “Tidak ada permulaan untuk samsara. Juga tak ada akhir untuk samsara. Engkau harus menolong semua makhluk sampai mereka terbebaskan.”

Avalokiteshvara memohon, “Jika hamba harus menolong semua mahkluk hingga terbebaskan, bolehkah hamba memiliki seribu tangan, dan seribu mata. Seribu tangan mewujud sebagai seribu penguasa semesta, dan seribu mata mewujud sebagai seribu Buddha”. Buddha Amitabha meluluskan permohonannya dan memberinya seribu tangan dan seribu mata, tiap mata berada di tiap telapak tangan.

Buddha Amitabha lalu memerintahkannya, “Jika engkau ingin membebaskan penderitaan di enam alam, engkau harus mengajarkan Mantra Enam Sukukata “OM MANI PADME HUM” yang akan menghentikan kelahiran kembali dan penderitaan makhluk di enam alam. Tiap sukukata akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di tiap alam terkait. “OM” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam dewa. “MA” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkankelahiran kembali di alam setengah dewa. “NI’ akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam manusia. “PAD” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam binatang. “ME” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam setan kelaparan. “HUM” akan menghilangkan penyebab dan kondisi yang mengakibatkan kelahiran kembali di alam neraka. Engkau harus menggunakan, menjaga, mendaraskan dan menyerap mantra ini. Ini akan mengosongkan ke enam alam.”


Kedatangan Avalokiteshvara di Dunia ini

Buddha Amitabha mewujudkan enam suku kata “Om Mani Padme Hum” dalam rupa cahaya, yang muncul di dunia ini ke Gunung Potala. Beliau juga memerintahkan Avalokiteshvara pergi ke sana untuk membebaskan semua makhluk hidup. Menyongsong kedatangan Avalokiteshvara, seluruh dunia dipenuhi dengan tanda-tanda menakjubkan dan cahaya cemerlang, yang melampaui matahari dan bulan.

Pada waktu itu, Buddha Sakyamuni sedang memberikan pengajaran di Gunung Malaya. Salah seorang Bodhisattva mengetahui adanya cahaya cemerlang. Ia bersujud dan bertanya ke Buddha apa yang terjadi. Buddha Sakyamuni menjawab, “Dari sini ke Barat di atas semesta yang tak terbilang, ada suatu tempat bernama Padmawati. Disana, bertahta seorang Buddha yang dikenal sebagai Amitabha, dan ia memiliki seorang Bodhisattva bernama Avalokiteshvara. Bodhisattva ini telah datang ke dunia ini di Gunung Potala dimana ia akan menolong makhluk yang tak terhingga jumlahnya. Ia adalah yang paling sempurna di antara semua Bodhisattva. Ia mewujud dalam seribu Buddha yang meliputi seluruh semesta alam untuk membebaskan semua makhluk.”

 
Ajaran Mantra Enam Sukukata oleh Buddha Sakyamuni.

Pada suatu kali, Buddha Sakyamuni sedang berdiam di vihara Anathapindika di hutan Jeta dekat Shravasti dengan para muridnya. Ia memperkenalkan bodhisattva yang sangat dihormati ini dan Mantra Enam Sukukata kepada yang hadir di pertemuan. Seorang bodhisattva bernama Sarvanivaranaviskambhim mengajukan permohonan kepada Yang Mulia. Ia bersujud dan berseru, “Untuk manfaat bagi semua makhluk di enam alam, mohon beritahu hamba bagaimana hamba dapat memperoleh Mantra Agung ini yang merupakan kebijakan semua Buddha, yang akan memotong akar dari samsara. Berkenanlah Buddha memberikan hamba ajaran ini. Hamba persembahkan seluruh semesta sebagai Mandala. Terhadap siapa yang mau menulis Mantra Enam Sukukata ini, hamba sediakan darah hamba sebagai tintanya, tulkang hamba sebagai pena, dan kulit hamba sebagai kertasnya. Oh, Buddha Mulia, berkenanlah memberikan hamba pengajaran Mantra Enam Sukukata.”

Buddha Sakyamuni lalu memberikan pengajaran. “Ini adalah mantra yang paling bermanfaat. Bahkan saya membuat aspirasi ini ke hadapan jutaan Buddha dan selanjutnya menerima pengajaran dari Buddha Amitabha.”


Manfaat Mantra Enam Sukukata

Hasil dari Mantra Enam Sukukata tak terukur dan tak dapat dijelaskan sepenuhnya bahkan oleh Buddha dari tiga masa. Beberapa manfaatnya adalah:

1.     Siapa saja yang menyimpan mantra ini, tubuhnya akan  berubah menjadi tubuh vajra, tulangnya akan menjadi reliks Buddha dan pikirannya akan berubah menjdai kebijaksanaan Buddha.

2.     Siapa saja yang mendaraskan mantra bahkan meski hanya sekali saja akan memperoleh kebijaksanaan tak terukur. Ia akan mengembangkan belas kasih dan menyempurnakan enam kebijaksanaan. Ia akan dilahirkan sebagai seorang penguasa semesta. Ia akan mencapai tingkatan Bodhisattva yang tak dapat turun dan akhirnya mencapai Penerangan.

3.     Jika mantra ini dipahat di batukarang dan gunung, dan seorang manusia atau bukan manusia datang dan melihat mantra itu, ia akan mengembangkan penyebab untuk menjadi seorang Bodhisattva dalam kehidupan selanjutnya, sehingga membebaskan penderitaannya.

Dikatakan bahwa pasir sungai Gangga dan tetesan air di samudera dapat dihitung tetapi hasil dari pendarasan Mantra Enam Sukukata tak dapat dihitung.

Mantra Enam Sukukata adalah perwujudan ucapan dan enerji kebijaksanaan dari semua Buddha. Ini memurnikan persepsi tidak murni ketika atas suara. Ini juga sarana untuk melindungi pikiran kita dari pemikiran yang menjerumuskan. Ini menghentikan kebodohan seseorang dan membuka kebijaksanaan seseorang. Ini memperbesar berkat yang tak terhingga dan kedamaian yang dapat diperoleh. Ini dapat menyelamatkan dan mengurangi makhluk dari ratusan dan ribuan penderitaan dan kesukaran.

Ini mungkin terdengar tak masuk akal bagi beberpa orang. Bodhisattva, bagaimanapun, telah membuat aspirasi agung dan mengumpulkan hasil, kebijaksanaan, dan sarana mahir yang tak terhitung untuk menolong makhluk. Ia memiliki “kail” untuk membebaskan makhluk. Jika kita memiliki ketulusan dan iman yang dalam padanya dan mencoba upaya dalam praktek Dharma, kita seperti memiliki “suatu cincin yang kuat dan tak akan patah”. Dengan cincin iman kita, Avalokiteshvara akan dapat “memancing” kita keluar dari penderitaan.

Oleh karena itu, kita harus dengan penuh hormat mengingat Avalokiteshvara, dan mendaraskan Mantra Enam Sukukata. Semua kebutuhan duniawi dan rohani kita akan dipenuhi.


Avalokiteshvara di Tibet

Pada suatu waktu, Lha Thothori Nyentsen, seorang Raja Tibet, bertahta di Istana Yumbu Lagang. Sebuah peti jatuh dari langit menimpa atap istana. Peti dibuka dan berisi Sutra Tatacara Penolakan dan Pengabulan (spang-skong phyag-brgya-pa’imdo), suatu papan hias diukir dengan Dharani Permata Pengabul Harapan (Cintamanidharani), Sutra Kornukopia Sifat Avalokiteshvara (Aryakaranda Sutra), Mantra Enam Sukukata, dan sebuah stupa emas. Sang Raja tidak tahu apakah itu, tetapi mengerti bahwa itu sangat berharga. Sang Raja telah bermimpi bahwa arti dari benda berharga itu baru akan diketahui sesudah lima generasi.

Penguasa kelima sesudah Lha Thothori adalah Raja Songtsen Gampo. Ia menikah dengan Brikuti putri dari kerajaan Nepal dan Wen Cheng putri kerajaan China Tang. Masing-masing membawa sebuah patung Buddha Sakyamuni ke Tibet dan memperkenalkan budaya Buddhis ke negeri itu. Sang Raja merasa pentingnya memberikan ajaran Buddha kepada rakyatnya. Ia mengirim Thonmi Sambhota ke India untuk mempelajari tatabahasa dan menulis. Thonmi Sambhota kelak menciptakan huruf dan tatabahasa Tibet berdasar bahasa Sanskrit. Naskah Buddhis pertama yang diterjemahkan dari Sanskrit ke bahasa Tibet adalah Sutra dan tantra Duapuluh-Satu dari Avalokiteshvara. Selanjutnya, banyak ajaran penting Buddha yang diterjemahkan.

Sang Raja dan rakyatnya menyatu dalam praktek Avalokiteshvara.Naskah-naskah pengajaran dikumpulkan dan disembunyikan di kasanah terpisah. Guru yang telah tercerahkan Ngodrup, Lord Nyang dan guru Shakya-O kelak menemukan peninggalan tersebut. Peninggalan tersebut dikenal sebagai Kumpulan Karya Sang Raja berkenaan dengan Mantra “Om Mani Padme Hum” (mani bka-bum).

Banyak guru besar masa lampau dan sekarang di Tibet menyebarkan ajaran Avalokiteshvara kepada pengikut mereka. Ada banyak sadhana (latihan) yang disusun oleh guru besar yang secara pribadi menerima pengajaran dari Dewa sebagai hasil latihan mereka. Banyak praktisi Tibet mengikuti metode latihan tersebut untuk mencapai tingkat Avalokiteshvara dan membebaskan diri mereka dari penderitaan Samsara. Mereka juga membimbing yang lain dalam jalur yang sempurna ini.

Banyak pertapaan pria dan pertapaan wanita juga mengadakan retret pemurnian tahunan (Nyungne), Pendarasan Agung atas Mantra bagi rahib dan awam. Para Guru juga mendorong pencetakan Mantra Enam Sukukata pada roda doa dan sebagainya untuk mendapatkan hasil. Orang Tibet percaya bahwa semua tindakan itu akan mendukung mereka dalam kemajuan di jalur spiritual mereka. Mereka percaya Avalokiteshvara adalah penyelamat dan pelindung mereka, sementara Raja Songtsen Gampo adalah perwujudan Avalokiteshvara, dan dua pribadi ini adalah perwujudan dua Tara.
thanks Buddha...

4kupak

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 898
  • Reputasi : 21
Re: mantra Om Mani Padme Hum ~ Riwayat & makna
« Reply #1 on: November 02, 2009, 09:02:21 AM »
OM MANI PADME HUM Ke enam karakter ini secara bersama membentuk enam karakter Mantra Maha terang yang mana setiap orang dapat memancarkan cahaya terang.

OM adalah karakter pertama dari mantra ini. Ketika kamu mengucapkan OM (Nan) sekali saja maka semua hantu-hantu, makhluk-makhluk halus dan lain sebagainya harus merangkapkan kedua tangannya. Mengapa? Ini adalah untuk mematuhi peraturan dan tata cara alam semesta. Sejalan dengan tata cara tersebut mereka mengikut jalan yang benar. Sekali saja karakter (sumber kata) ini telah diucapkan maka para hantu-hantu, makhluk halus dan lain sebagainya tidak berani bertikai dan menciptakan masalah yang mengacaukan dan sebaliknya mereka saling menghormati satu sama lain.

MANI adalah suara yang pertama dalam mantra ini yang berarti "Kebijaksanaan Hening", Dengan menggunakan kebijaksanaan seseorang dapat mengerti semua hukum-hukum dan juga dapat memisahkan dari noda-noda yakni noda-noda kekotoran bathin dan kesukaran yang dapat dipertimbangkan sama dengan "Seperti Permata yang Engkau Kehendaki yang benar-benar suci dan murni. Jika engkau benar-benar murni "Seperti Permata Yang Engkau Kehendaki" segala sesuatu dapat terwujud/terlaksana. Ini juga dapat mengabulkan keinginan/harapanmu sesuai dengan yang engkau pikirkan (kehendaki). Segala cita-citamu akan terpenuhi. Ini adalah manfaatnya.

PADME ini dapat diartikan "Cahaya yang Sempurna menyinari dan juga dapat diartikan sebagai Teratai Yang sedang terbuka (Mekar)". Ini juga dianalogikan sebagai Bunga Teratai Yang Indah yang dapat menyempurnakan dengan sempurna mengabulkan tanpa rintangan. Ini adalah Pikiran yang menakjubkan dari Avalokitesvara Bodhisattva.

HUM Kata HUM ini dapat diartikan "Meletakkan dasar" Segala sesuatu daat dilakukan oleh karakter ini "HUM" yang juga berarti "Melindungi dan mendukung". Sekali karakter (suku kata) ini terucap maka semua Pelindung Dharma dan malaikat berbudi datang melindungi dan mendukungmu. Ini juga berarti "Mengikis bencana". Begitu karakter ini telah diucapkan dan maka segala kesulitan akan teratasi dan musnah. Juga dapat dimaksudkan "Sukses" dalam segala hal yang engkau kerjakan dapat tercapai.

Bagi yang melafalkan 6 karakter mantra Maha Terang (OM MANI PADME HUM) akan selalu dilindungi dan didukung oleh tak terhingga Para Buddha, Bodhisattva maupun Pelindung Dharma Vajra. Pada saat Bodhisattva Avalokitesvara selesai mengucapkan 6 karakter mantra Maha Terang ini sungguh tak dapat dibayangkan, respon yang menakjubkan maupun cara kerjanya yang tidak dapat dibayangkan pula. maka dari itu dapat dikatakan juga sebagai Ajaran Rahasia. Jika seseorang mencoba menjelaskannya secara mendetail, maka maknanya adalah tak terkirakan dan tak terbatas yang tidak pernah selesai untuk dibicarakan. Keenam karakter kata sejati ini dikenal juga sebagai enam karakter mantra Maha Terang yang merupakan hasil (pikiran) yang mendalam, indah, luar biasa, asli dari Bodhisattva Avalokitesvara yang mana pahala dan kebajikannya adalah sungguh tak terhingga, tak terbatas dan tak dapat dibayangkan pula.

Amithofo _/\_
thanks Buddha...