Author Topic: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha  (Read 10048 times)

Johanes Free Thinker

  • Pemula
  • *
  • Posts: 52
  • Reputasi : 10
Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« on: January 31, 2009, 07:52:08 PM »
Halo teman-teman, apa kabar?  ;D
Begini saya kali ini ingin bertanya tentang suatu hal.
Saya lihat ternyata kebanyakan umat Buddha itu lebih percaya kepada dewa-dewa. Mereka percaya bahwa dewa dapat membantu mereka dengan begitu mudah.... Saya heran "Kenapa banyak umat Buddha yang lebih percaya kepada dewa-dewa yang masih terikat kekotoran bathin dari pada ajaran Sang Buddha???????
Saya mohon maaf, saya tidak bermaksud untuk menyerang umat Buddha atau aliran tertentu. Saya adalah seorang pemikir bebas. Tentu saja hal ini menjadi bahan pertanyaan bagi saya.
Coba teman-teman jawab sendiri, apakah ketika Anda meminta bantuan pada dewa-dewa, apakah permintaan Anda selalu dikabulkan??? Apakah ada perubahan hidup yang berarti dengan menyembah dewa-dewa tersebut???  ::)

Keluarga saya secara tidak langsung melakukan ehipassiko soal ini. Keluarga saya secara taat menyembah dewa langit dan dewa bumi. Saya sendiri gak tahu pasti yang disembahnya dewa atau bukan. Keluarga saya telah melakukannya selama 20 tahun lebih sampai sekarang. Ternyata kehidupan keluarga saya tidak berubah alias berjalan di tempat.
Begitu juga dengan ibu saya yang sering membakar mantra/kertas dewi kwan im. Saya gak tahulah apa itu. Pokoknya kayak gitulah. Dengan harapan, usaha ibu saya semakin maju. Ternyata sama juga gak ada hasil....

Dengan demikian saya menyimpulkan bahwa "Takdir ada ditangan kita sendiri"
Keberhasilan dalam hidup kita tergantung dari usaha kita sendiri. Tentu saja juga dibantu oleh karma. Mohon maaf ya teman-teman, sekali lagi saya tidak bermaksud menyerang pihak-pihak tertentu  ;D Saya hanya ingin mempelajari Dharma ajaran sang Buddha yang sesungguhnya

Alasan saya menyukai ajaran Sang Buddha adalah karena ajaran Sang Buddha mengajarkan bahwa : "Takdir ada di tangan kita sendiri"  8)

~Boank~

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 932
  • Reputasi : 28
  • ~HaN~
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #1 on: January 31, 2009, 08:10:04 PM »
umat Buddha yg tung2cep (acung acung tancep) yang biasanya begitu.
sebagian karena terpangaruh oleh budaya China :D

"Takdir ada ditangan kita sendiri"
pernyataan ini memang benar adanya, tapi coba qt teliti lebih dalam lagi.
dengan memberikan persembahan dan berdoa dengan sungguh2 kepada Dewa-Dewi, secara tidak langsung kita melakukan perbuatan bajik. :d

mengenai permintaan yang dikabulkan atau tidaknya disini sangat dipengaruhi oleh faktor "karma" ( bukan guru K@RM@ ya :D )
jika saat kita melakukan persembahan dan membuat sebuah permintaan, bila pada saat itu pula karma baik kita sedang berbuah, siapa tau aja ada Dewa/Dewi yang secara tidak sengaja mendengar permintaan qt tsb.
darimana datangnya karma baik qt yang berbuah.? ya dari perbuatan2 bajik kita sendiri di masa ini ataupun lampau :D
jadi balik lagi ke sini khan : "Takdir ada ditangan kita sendiri"


CMIIW
SSBS
Namaste _/|\_
We Live One Day,
We Live Beautifully,
We Die With a Beautiful Impression..

K@RM@

  • MoD
  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 978
  • Reputasi : 19
  • ٩(●̮̮̃•̃)Life is a magical Journey(●̮̮̃•̃)۶
    • Youth Magician Society
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #2 on: January 31, 2009, 08:30:42 PM »
PERTAMAX NEH ,

wew ada nama gw disana .
Gw jawab dr versi Buddhist Mahayana , yang masih sembahyang kepada Dewa/dewi , sebenarynya tujuan kt sembahyang terlebih memohon sesuatu bahkan sampai membakar Fu (kertas mantra) bukan suatu hal yang dilarang dalam agama Buddha , ingat agama Buddha membolehkan pembauran dengan budaya . Asalkan dengan sembahyang itu bisa menimbulkan sugesti positif , maka tentu hal itu diperbolehkan . Sebagai contoh kita sembahyang agar kita diberi kesehatan dan rezeki , tentu hal tersebut justru akan menambah iman kita terhadap agama yang kita anut , sayangnya memang gw akui masih banyak yg salah mengartikan sembahyang terhadap dewa/dewi , bukti nyata gw masih sering nemuin banyak orang yang ke kelenteng lalu sembahyang pada dewa/dewi agar diberi kemujuran dan keberuntungan dalam berjudi , atau minta diberi angka togel (INGAT BUDDHA / DEWA / DEWI TIDAK MENGAJARKAN UMATNYA UNTUK BERJUDI) . Sekian jawaban gw semoga berguna _/|\_



Nico Mercubuono

  • Murid
  • **
  • Posts: 621
  • Reputasi : 10
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #3 on: January 31, 2009, 09:11:12 PM »
Coba g jawab :
Emang secara versi Buddhist Mahayana , ada bersembahyang pada Dewa / Dewi ( Sian / Sin Beng ).. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada Sin Beng itu dan kita bisa meniru sifat-sifat nya dalam praktik kehidupan kita sehari - hari... Contoh : Kita sering bersembahyang pada Kongcho Kwan Kong ( Kwan Tee Koen / Boddhisattva Satya Dharma Kalama ( Sangharama ) , kita dapat meniru sifat kesetiaannya dan sama halnya dewa - dewi lainnya...

Namun banyak orang menyalahartikan ataupun gak tau esensi bersembahyang seutuhnya. Hanya mengikuti ritual yang membabi buta saja.. Jika mau menjalankan ritual tidak apa2 asalkan mengetahui tujuan dan maksud ritual itu diadakan. Tidak ada salahnya membakar Kim Cua ( kertas sembahyangan ) maupun meminta Fu / Hu Peng An  karena bukan suatu hal yang dilarang dalam Agama Buddha.. Agama Buddha selalu membaur dengan banyak budaya. Begitu pula Agama Buddha masuk ke Tiongkok bercampur dengan budaya setempat. Hal ini dapat menambah keyakinan / sradha kita kepada umat Buddha.. Namun keyakinan harus disertai dengan kebijaksanaan agar tidak menjadi mustahil / tahayul. Misalnya kita hanya meminta saja minta pingin dapet hoki tapi males-malesan / ga mau bekerja.nah apakah bisa ada hasilnya? inilah keyakinan tanpa kebijaksanaan. Untuk itu keyakinan dan kebijaksanaan Harus berjalan seimbang / balance..

Kalo umat kebanyakan suka cung2 cep  karena ini hanya tradisi dan budaya umat Tionghua...
Kembali ke topic..Biasanya orang dulu dan masi juga dipraktikkan sama orang tua kita ada menyembah dewa langit / Thian Ti Kong ataupun Dewa Bumi / Hok Tek Tjeng Sin..Beliau masing2 mempunyai cerita masing - masing ..Sudah saya bahas di Thread berbeda..bisa dibaca..Tiada salahnya menyembah mereka karena tidak ada larangan .

Kalau masalah bisa merubah hidup kita / gak semua tergantung dari KARMA kita..Bila kita sedang memohon permintaan pada Sin Beng dan saat itu karma baik kita berbuah. Dari mana datengnya biar karma baik cepat berbuah? Banyak2 lah berbuat baik dan bajik baik di kehidupan ini. Kita memang tidak bisa merubah kehidupan masa lampau kita namun kita bisa merubah kehidupan masa depan kita. Caranya dengan banyak berbuat baik di kehidupan ini. Bila masih suka bersembahyang / Thiam Hio asal dengan tujuan dan etiket yang benar laksanakanlah saja teruskan namun kita harus imbangi dengan Buddha Dhamma. Caranya Buddha Dhamma itu universal namun kemasan aja harus kita ubah. Daripada membakar banyak2 kim cua mendingan bakar dikit sisa uangnya didanakan ke orang susah.gampang kan?

Memang ada tradisi membakar kertas dengan beraneka ragam.. Dahulu nenek saya pun begitu..Setiap ada She Jit / ultah dewa - dewi pasti membakar kertas sembahyangan beraneka ragam . Ambil Contoh  HUT Kongcho pasti bakar kertas sembahyangan baju-baju dan kertas sembahyangan beraneka ragam . Seperti saya bilang kalau dihilangkan rasanya agak sulit karena faktor kemelekatan sangat sulit dihilangkan namun kurangi perlahan lahan dan kalo bisa dihilangkan mala bagus..Namun lebih bagus lagi kita mengajarkan sedikit ajaran Buddhism kayak gini kalau bakar kertas lebih manjur sambil baca liam keng baca aja NAMO AMITOUFO..hal ini membuat orang tua kita tertarik dan sambil bakar dia terus liam keng..secara tidak langsung kita sudah mengajarkan sedikit ajaran Buddha..dan kalo orang tua kita tertarik malah lebih bagus dia suka baca AMITOUFO dan kebiasaan membakar kertas berkurang dan beralih ke arah liam keng..

Demikian penjelasannya..
Gimana temen2 yg lain ada menambahkan..
“ The SECRET of Health for both body and mind is not mourn for the past , worry about the future , or anticipate troubles. But to live in the present moment wisely and earnestly”
[ Sakyamuni Buddha ]

luis

  • Pengawas Thread
  • Murid Senior
  • *****
  • Posts: 1285
  • Reputasi : 81
    • Luis's blog
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #4 on: January 31, 2009, 09:24:56 PM »
Yup penjelasan yang bagus dari guru2 semua :) Anumodana _/\_

Saya nambahin sedikit ... Buddhisme merupakan agama yang non-theistis. Artinya ... bukan kita tidak percaya/menyangkal adanya makhluk2 yang lebih tinggi seperti dewa/Brahma (atheis). Kita percaya akan keberadaan mereka, hanya saja mereka bukan penentu jalan hidup kita. Mengapa? Simpel aja ... makhluk2 tinggi ini pun belum terbebas dari Samsara, sama seperti kita :) dan juga mereka tidak lepas dari Hukum Karma. Mereka bisa lahir di sana sekarang karena jasa dan kebajikan yang mereka perbuat di masa lampau.

Sang Buddha menjelaskan ada 31 alam kehidupan, dan alam dewa dan Brahma termasuk di antaranya. Jadi... keberadaan mereka (dewa dan Brahma) adalah ko-eksis dengan kita ... sama halnya seperti kita hidup bersama2 dengan orang lain dan binatang2 di alam kita. Walaupun masing2 makhluk mewarisi karmanya sendiri, sebagai makhluk sosial ada hubungan timbal balik dan saling menolong :)

Sama juga dengan dewa dan kita. Kita hidup ko-eksis dengan mereka, dan bisa saling menolong. Misalnya, saat kita melakukan kebajikan seperti mendengarkan Dhamma atau menolong orang lain, kita dapat mengundang para dewa untuk ikut bersukacita atas jasa dan kebajikan yang kita perbuat. Dengan bersukacita, para dewa tuh telah berbuat karma baik... yang dengan kata lain kita menolong mereka untuk berbuat karma baik :) dan juga dewa bisa menolong manusia dalam kapasitas tertentu.

Yang menjadi salah, tentu saja apabila kita jadi menggantungkan hidup kita pada mereka. Hal ini sama kasusnya dengan kita menggantungkan hidup kita pada seseorang, tentunya itu berdampak tidak baik terhadap diri kita sendiri (jadi parasit) dan juga terhadap orang tempat kita bergantung. Dalam hal ini, hubungannya bukan lagi mutualisme yang saling menunjang praktik satu sama lain, tetapi jadi seperti "parasit" dan "pohon yang ditumpangi".

Nah pertanyaan dari Johanes kenapa ada orang2 yang memilih menjadi "parasit" untuk para dewa ini? Tentu saja ini diakibatkan moha ... alias ketidaktahuan mereka :) mereka beranggapan bahwa para dewa merupakan tempat menggantungkan diri dan memohon, padahal para dewa pun punya kapasitas sendiri2 dan juga mereka pun sama2 masih dalam proses perjalanan spiritual untuk bebas dari Samsara. Hal2 yang terakhir ini yang mereka tidak ketahui :)

Kita musti bersyukur karena kita telah mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pandangan benar, sehingga terhindar dari pandangan salah di atas. Tugas kita adalah menjalankan sebaik2nya praktik spiritual kita, dan menjadi teladan bagi orang2 di sekitar kita tentang praktik Dhamma yang baik dan benar. Apabila kita menjalankan praktik dengan benar, orang lain pun bisa melihat perubahan dalam diri kita dan perkembangan kualitas2 luhur seperti cinta kasih dan kebijaksanaan. Dengan begitu, kita bisa menginspirasi mereka dan mengajarkan pandangan benar pada mereka.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Mettacittena,
Luis 
Do not blame nor criticise anyone, as there is no one to blame in the first place.

Monggalana

  • Pemula
  • *
  • Posts: 40
  • Reputasi : 1
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #5 on: February 01, 2009, 11:17:29 PM »
setuju sm om luis..
tp sebagian org jg percaya bahwa dewa dewi memang dpt menolong...
tp sebagian jg gak percaya, salah satunya adalah saya.. saya cm percaya sm keberadaannya aja, tp tindakan yg dilakukannya utk menolong, rasanya saya gak percaya
Bagi yg mau share informasi sm saya?
email /YM/ FS : I_Y_U_S@yahoo.com
Saya sangat mengharapkan keluhan dan saran dari para guru untuk memperbaiki dan menambah pengetahuan murid ini.. sadhu3x

Gunawan S S

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 1514
  • Reputasi : 44
  • Siswa Berbaju Putih
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #6 on: February 03, 2009, 01:23:08 PM »
Anumodana kpd semua Guru-guru di atas yang sudah Posting....

Semoga Semua Dewa-Dewi di Alam Sorga selalu Berbahagia selalu.
Semoga Semua Makhluk Bebas dari Penderitaan nya.

Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Jadilah Pelita bagi dirimu sendiri.
Jadilah Pelindung bagi dirimu sendiri.
Janganlah mengantungkan Hidupmu pada makhluk manapun.
Peganglah Dhamma sebagai Pelitamu.
Peganglah Dhamma sebagai Pelindungmu.

Wang Tjhun Nen

  • MoMoD
  • Murid
  • *****
  • Posts: 580
  • Reputasi : 70
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #7 on: February 07, 2009, 12:52:26 AM »
setuju sm om luis..
tp sebagian org jg percaya bahwa dewa dewi memang dpt menolong...
tp sebagian jg gak percaya, salah satunya adalah saya.. saya cm percaya sm keberadaannya aja, tp tindakan yg dilakukannya utk menolong, rasanya saya gak percaya
Guru Monggalana, tentunya guru percaya manusia bisa saling menolong, bahkan seekor binatangpun bisa menolong manusia, ini karena semua mahluk hidup termasuk dewa pada hakikinya memiliki potensi untuk saling menolong dan memiliki ketergantungan antar satu dengan yang lainnya (paticca Samuppada).

Apabila kita yakin akan keberadaan mahuk hidup yang namanya dewa, maka keyakinan yang sama juga akan muncul bahwa merekapun mempunyai potensi yang sama untuk menolong mahluk lain.

Bedanya sebagai orang yang bijaksana, terlepas apakah dengan adanya bantuan atau tanpa bantuan para dewa, para bijaksana tidak akan pernah menggantungkan hidupnya pada para dewa, seperti yang dikatakan ajahn Luis, karena para dewa bukan penentu jalan hidup mahluk lainnya.

May all beings be happy

Om Mane Padme Hung
Om Mane Padme Hung

AFUK

  • Pemula
  • *
  • Posts: 29
  • Reputasi : 0
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #8 on: May 04, 2009, 12:59:39 PM »
@johanes,
lah emangnya kalo km bikin karma baek bisa langsung terkabul.? itu kalo doa ibu km belon dikabulkan itu namane dewa-dewi lagi sibuk. sehingga belon menolong ibu km..

Red

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 1707
  • Reputasi : 12
  • Wena
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #9 on: May 05, 2009, 03:12:44 AM »
@atas
apa lagi penyebab mereka sibuk kalo bukan karena kekuatan karmamu blum mencukupi? =/
menanam benih kebajikan blum tentu langsung menuai buahnya pada saat itu juga..
FacebookMembuka Les Manga utk pemula. Yg minat PM/SMS aja ^.^

Purnama S

  • Murid
  • **
  • Posts: 292
  • Reputasi : 26
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #10 on: May 05, 2009, 09:08:24 AM »
Sebenarnya keberadaan Dewa dalam aliran Buddhis manapun itu ada. Tapi tergantung proposionalnya. Kalo dalam konsep Mahayana di kenal sebagai Bodhisatva, tujuan kehadiran Bodhisatva dalam aliran teravada berarti cita2 tertinggi menuju Buddha. Tapi dalam aliran Mahayana cita - cita tertinggi ini dianggap mulia. Maka Para bodhisatva dalam setiap kehadirannya itu selalu berusaha membantu manusia, Bukan menyelamatkan manusia, Berusaha membantu manusia agar bisa mencapai kebijaksanaan mulia .

Gunawan S S

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 1514
  • Reputasi : 44
  • Siswa Berbaju Putih
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #11 on: May 05, 2009, 10:09:10 AM »
^Atas = Kalau Boleh Tahu membantunya dalam bentuk apa?  Pernahkah anda mengalami bantuannya?
Sang Buddha pernah bersabda kpd Bhante Ananda ketika 3 bulan menjelang Parinibbana;
Attadipa = Jadilah Pelita Bagi Dirimu Sendiri
Annasarana = Jadilah Pelindung Bagi Dirimu Sendiri
Dhammadipa = Peganglah Dhamma sebagai Pelitamu
Dhammasarananca = Peganglah Dhamma sebagai Pelindungmu
Jadi kalo menurut Bro.Purnama , Apakah Sang Buddha menyuruh kita untuk bergantung kpd Suatu Substansi tertentu?
Coba anda renungkan?

No Offense , Just Curriosity......

Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Jadilah Pelita bagi dirimu sendiri.
Jadilah Pelindung bagi dirimu sendiri.
Janganlah mengantungkan Hidupmu pada makhluk manapun.
Peganglah Dhamma sebagai Pelitamu.
Peganglah Dhamma sebagai Pelindungmu.

fandi

  • Pengawas Thread
  • Murid
  • *****
  • Posts: 308
  • Reputasi : 1
  • Have a good day.
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #12 on: May 05, 2009, 12:32:20 PM »
@atas
Baca terjemahan indonesia Ratana Sutta.
I say "I'm uncertain" when i'm uncertain.
I say "I know" when i know.
I say "I have" when i have.
I say "I do/have not" when i do/have not.
I will say things when i think my word will benefit the listeners.

That way i try practice Right Speech.

Gunawan S S

  • Murid Senior
  • ***
  • Posts: 1514
  • Reputasi : 44
  • Siswa Berbaju Putih
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #13 on: May 05, 2009, 01:02:58 PM »
@atas = Apakah Sang Buddha mengajarkan untuk mengantungkan hidup kita kpd suatu Substansi tertentu? Silahkan anda jawab....

Thanks & Best Regards
Gunawan S S
Jadilah Pelita bagi dirimu sendiri.
Jadilah Pelindung bagi dirimu sendiri.
Janganlah mengantungkan Hidupmu pada makhluk manapun.
Peganglah Dhamma sebagai Pelitamu.
Peganglah Dhamma sebagai Pelindungmu.

Purnama S

  • Murid
  • **
  • Posts: 292
  • Reputasi : 26
Re: Dewa-Dewi VS Ajaran Buddha
« Reply #14 on: May 06, 2009, 10:04:19 AM »
^Atas = Kalau Boleh Tahu membantunya dalam bentuk apa?  Pernahkah anda mengalami bantuannya?
Sang Buddha pernah bersabda kpd Bhante Ananda ketika 3 bulan menjelang Parinibbana;
Attadipa = Jadilah Pelita Bagi Dirimu Sendiri
Annasarana = Jadilah Pelindung Bagi Dirimu Sendiri
Dhammadipa = Peganglah Dhamma sebagai Pelitamu
Dhammasarananca = Peganglah Dhamma sebagai Pelindungmu
Jadi kalo menurut Bro.Purnama , Apakah Sang Buddha menyuruh kita untuk bergantung kpd Suatu Substansi tertentu?
Coba anda renungkan?

No Offense , Just Curriosity......

Thanks & Best Regards
Gunawan S S

Terus terang saya pernah mengalaminya. itu subtansinya terhadap kepercayaan saya sendiri.

Kalo dari pengangan seperti itu jujur saja, itu dimaksudkan agar diri juga mau mampu mengembangkan diri kearah pelita kebajikan tersebut. Tapi Bukan berarti konsep pemikiran yang dalam tanda kutip : "fanatisme" itu akan diartikan pada diri sendiri kepada ego sendiri bro gun, sementara kalo dari ambil ajaran Buddha dharma sebenarnya untuk melepaskan ego tersebut kalau anda baca kembali dengan seksama. ini kadang kita itu tidak memaknai dari kalimat dari dhamaspada, sutta, dan sebagainya dengan hati-hati penuh perenungan, tidak mengambil berdasarkan satu kalimat saja. Kalo dalam aliran teravada Bodhisatva itu masih rendah, dewa masih dianggap biasa saja, Kalo bicara konsep seperti itu, ada lainnya dari aliran teravada yang berpikiran konteks lain Bro gun, contoh di Thailand itu ada yang namanya dewa empat muka, ada yang angulimala saja ditungcep hio, tidak perlu jauh -jauh ke thailand ke dhammacaka saja mau berdoa kepada Buddha saja masih tuncep hio. itu bisa dikatagorikan pendewataan bagi agama lain. Jadi manidestasinya sudah tergantung jalan pikiran kita sendiri. Kalo anda merasa bagian dari Terikat yang sangat kuat, bahasa abidarmanya Mittha Ditthi.

Semua masih mittha ditthi, kalo tidak mittha ditthi sudah jadi Buddha, begitu pula Bodhisatva mereka itu sudah mampu menghilangkan Mittha ditthi itu, dalam aliran mahayana ada konsep disebut Ketidak akuan atau " Ego ", konsep ini bermaksud menghilangkan ego tersebut. Maka Bodhisatva itu orang sudah menghilangkan ego tersebut dan bersimpatik terhadap agama Buddha sehingga mereka mau membantu umat manusia.

Kalo Mengantungkan tidak juga, seperti mudahnya anda tidak mungkin belajar dharma dengan sendirian kan, ada namanya sangha, adanya namanya romo, adanamnya dharma duta, kehadiran mereka bisa dikatakan Bodhisatva.

Jadi subtansinya adalah kalau dalam aliran mahayana itu mengajarkan bahwa semua mahluk dapat mencapai kebuddhaan, dan Semangat kebersamaan itulah dibangun untuk saling bantu membantu untuk mencapai kebuddhaan itu semangat para Bodhisatva.

Subtansi dhamma sesungguhnya itu bukan penyelamatan sendiri maupun orang lain, tapi ditujukan kepada semua mahluk kalau anda baca lagi seksama sutta2 tersebut

 

Please do not spam this forum. this is a Buddhist Forum.... _/\_